20160319

Love at first sight is real.

Assalamualaikum wr wb.

I know its been so long since I’ve posted the latest one, lets see.. around last year, is it? Soooo the title says it all. Love at first sight is real, it does exist.

This was actually one proof that I believe it’s real. A story, where everyone might consider cheesy, cliché or so. But sometimes that just what reality is.

Last year, I was a committee for my school sport championship, I was put in the body checking desk, near the registration desk and ticket booth. Of course, it was obvious that my work was to check people’s body before they got in to the, well I don’t know, gym? Sport centre? Whatever they called the place where this event held.

And you must be aware why there are such things as body checking before people got in and watch the show. One of the reason was, so they don’t bring foods and drinks from outside the place. Because of course they already provided by selling foods and drinks inside the place.

So what does that have to do with the title?

Here it is, I was sitting behind the body check desk where it had lots of used and new mineral water that people bought outside it was confiscated. From afar, I could see two guys walked over to my desk, behind him was a guy wearing sweater and the other was wearing the uniform of the school I certainly know and hate at the same time simply because I didn’t get in.

I was alone that time, at my desk. He then arrived before me and fished out a small paper from his pants, he asked me.
“can I get my stuff?” he looked at me

At first, I realized the way he rolled up both of his sleeve was the same guy I met on the food corner before, if I recall, he was smoking. Now that I don’t want to suspect him as a bad guy who smoke and never pray or even a jerk, considering he’s in the soccer team (I personally think that guys in the soccer team are like guys in football team, they’re jerk, sorry.) But then I thought maybe it was the other guy.

I’m not going to tell a detailed of bunch of good stuffs that people who are falling in love mostly do about him because then.. it’d be boring.

I snapped back to reality
“yes, may I see your number?”
He then gave me that small paper from his pants.
“okay, one sec.” I told him

On the way in, I met my friend so I asked her to search for his tumbler, yeah, it was considered a drink from outside so it was confiscated.
I walked back toward my desk, played my iPad and secretly took pictures of him, just to show them to my friend.

My friend that I asked to search for his tumbler came back seconds later and brought it to me, I got up from my seat and handed it carefully to him.
“is there anything else?” I asked him smiling
“no, that’s all.” He said “thanks”
With that he left.

Its not that from that moment on, or that the first time we eye contacted I fell in love. It was a moment later that I found out he was actually playing for his school soccer team and that I knew he was a captain. I looked up to the pictures I took several hours after the event was done. And from that moment on, it is suffice to say that I do fall in love with him.

Now that we never meet again, it was weird and silly having feelings for someone you know you could probably meet only once in your life. But now after so many months had passed, the feelings are somehow still intact within me. In fact, they grew stronger. Sometimes they beat the feelings I had for someone I had now liked for a year.

Sometimes, I wondered
what if the one that took the tumbler wasn't him, but his friend behind him?
what if he didn't run into me, but instead he'd run to the other desk?
what if the one who sat there and took care of him was my friend, not me?
I bet I wouldn't know him at all.

And its funny to look at these little signs God tried to give. As far as I know, we both liked this sad old song, its like our #1favorite sad song, we liked to joke around with silly words that we made up that some people consider funny, some don’t, when we were in middle school we both liked to post bunch of nonsense diary at blog that basically no one reads.

But, its not guilty to make some theories about who’s going to be the love of your life and spend the rest of your life with, eh?

So, I guess.. if you haven’t feel what its like to have love at first sight. You should try.


Wassalamualaikum.

20151218

Star Wars VII (2015) review

assalamu'alaikum wr wb.
halo! ga pake lama skrng juga mau bahas STAR WARS EPISODE VII: THE FORCE AWAKENS.



*SPOILER ALERT* (ga banyak kok) (iya kali) (ehe)
ok I'm just gonna write a very simple (not really tho) and quick review.

first, get ready to be disappointed, heartbroken, berpikir rasional dan lain-lain. because this episode sure contains lot of heartbreaking, breathtaking, sadness, sorrow and joy scenes. pokoknya rasanya bakal campur aduk sih kelar nonton.
tapi, ya itu tadi, siap-siap dulu. :))

utk plot, unik, unik sekali, menarik, kuat, solid, tapi kaya iceberg. yg keliatan baru sedikit, padahal sbnrnya masih banyak yg blm direveal. ga mengecewakan samsek kok, ga melenceng dari 30-tahun-setelah OT. you can never imagine how much it has change in 30 years! di menit ke 30-35 lo bakal kaya "oh.." "oh!!" "oh gitu.." "lah ternyata.." a lot hehe. awalnya gue takut 'aneh' gitu kan kaya prekuel.. tapi ternyata!! hehe



lot of nostalgia, yg pertama jelas scene pembukaan, gue ga bakal bahas soal scene pembukaan because ya pasti sampe eps IX bakal kaya gitu terus kan? yg jelas nostalgia dari mulai score udah ada, tapi score ada yg bikin baru lagi, and not so good as the original, the newest one is. (lah Yoda)

and a better visual effect and cinematography of course. you will see a better good looking stardestroyer interior (kali? ehe) gatau sih aing beda aja ngeliat nya. cuma di akhir-akhir aja sinematografi nya rada 'indosi*r' hehe.

yg mencuri hati penonton utk karakter baru sih jelas Kylo sm Rey ya, kalo menurut gue. Kylo remaja bimbang, Rey emansipasi wanita bgt? ahaha.

Eh iya, anak-anak The Raid main bkn omdo kok. ☺️
Satu hal penting ketika lo nonton ini adalah,
Jangan,
Jangan pernah,
Jangan sekali-kali,
Menyangkut pautkan ini dengan buku nya.
Jangan.
Bikin pusing soalnya, katanya buku yg lama udah ga dianggap canon sama filmnya.
Gua aja pusing selesai nonton, dikira Jacen ternyata Ben, padahal Ben anaknya...?!?!?!?! Dah ah, save it for yourself. 🙊

Rating aing? 9 lah wkwkwk cinta deh. 💓
Wassalamualaikum wr wb.








20151018

Boyhood (2014) review

Assalamu'alaikum wr wb.
So I found this classic love & hate movie called "Boyhood" yang dapet rating lumayan gede di IMDb yaitu 8/10.


A very simple synopsis IMDb has write. Kurang lebih begini yang tertulis di IMDb:
"The life of Mason, from early childhood to his arrival at college."

Bisa liat kan di poster film nya ada tulisan "A moving 12 year epic.
At first, gue gak terlalu ngerti maksudnya apa until gue minta pendapat temen-temen grup yang isinya sama-sama movie lover, reviewer, and those who loves to criticize. Butuh pendapat temen-temen grup dulu sama nonton sampai menit ke 46-an untuk ngerti maksud a moving 12 year epic itu apa.

Bagi sebagian orang, termasuk gue, baca sinopsis kayak gitu sih udah kebayang ya jadinya film gimana and here's what I thought:
Paling juga film 1 jam 30 menit isinya tentang cerita cowo dari kecil sampai besar terus nanti dia begini dan begitu kayak film drama yg lain. Nanti paling ketemu cewe pas dia udah besar, atau ga pas SMP dia dibully. But I was wrong.

Dan ternyata, film ini melakukan produksi selama 12 tahun! Untuk pengembangan karakter nya dari bocah sekitar umur 6 tahun sampai sekitar 19-20 an lah pas kuliah, dari pas suara nya masih cempreng sampai berat, dari pas masih hanging onto his mom's arm sampai jadi lelaki yeaa haha.
Dan semua itu dilakukan dengan pemeran yang sama, begitu kita liat film yang kurang lebih sinopsis dan jalan cerita nya agak sama kita bakal mikir kan pemerannya beda-beda? Tulisan pemeran nya pasti young X atau older X dan semacamnya. 

Tapi pas gue liat film ini kenapa pemerannya sama semua ya padahal kan dia grow up dan yea ternyata 12 tahun itu. Really amazing, new experience in cinema.
Untuk plot pacing ga terlalu lama dan ga terlalu cepat, bagus sih, per-umur tuh bisa sekitar 15-20 menit an kalau gak salah.
Mungkin buat Anda yang gak suka atau kurang suka dengan drama akan menganggap film drama berdurasi 3 jam ini cukup membosankan, tapi kalau suka drama ya pasti suka banget deh sama Boyhood ini dan mungkin akan beramsumsi ini adl film drama terbaik haha.

Drama perkembangan hidup, gimana engga? Perubahannya dinamis, no lack in transition pas perubahan umur dari sekian ke sekian. Cerita yang gak terlalu bisa ditebak sih, dugaan gue di atas salah semua tuh wkwk,

Ibu nya awalnya cerai sama ayahnya, dugaan pertama gue sih MBA ya jadi sang Ibu cuma bisa ngurus 2 anak nya sendirian, tapi gue ga tau pasti juga MBA atau emang cerai biasa. Terus ibu nya nikah lagi sama dosen kampus nya yang udah rada tua, cruel and violence gitu deh sama keluarga nya, dan cerai lagi. Hingga Mason (Ellar Coltrane) dan Samantha (Lorelei Linklater) harus pindah dari Texas ke tempat-tempat lain, punya papa yang beda-beda, film ini dari segi sinematografi -or well I don't know how to say this- lebih ke dokumenter harian gitu sih.
Dari awalnya sang Ibu putus kuliah gara-gara ngurusin anaknya, kemudian kuliah lagi dan nikah sm dosen nya, dia cerai dan jadi dosen trus pinter banget.
Mason? He's just growing up kayak remaja lainnya, so does Samantha. The story is sort of unpredictable, just like life itself.

Malah kalau kata salah satu temen gue di grup
"Kalo udah biasa nonton film keluarga tipikal hollywood yang tensinya naik turun en punya pola plot yang predictable pasti bakal ngerasa aneh dan ga doyan ama film ini, karena di kepalanya memang udah kebentuk ekspektasi tertentu."
Yes! Benar sekali. Di film ini gak ada klimaks nya layaknya film-film drama keluarga yang tensi nya naik turun seperti yg dikutip sama temen gue.

Ada review orang bilang kalau film ini bagusnya namanya Family atau Motherhood aja, but I disagree.
Karena yang pertama, indeed, ini film drama yang banyak family-material nya, tapi dari segi cerita, kita lebih melihat si Mason nya yang grow up. Unsur keluarga ada, tapi yg lebih mendominasi adl cerita hidup Mason itu sendiri.
Kedua, Motherhood, ini bukan ttg ibu, walau sang Ibu merupakan titik dorong utk anaknya yg bertumbuh dan lumayan mendominasi, tapi kita balik lagi ke segi cerita.

Bagus, film ini sangat menunjukkan dedikasi kru dan sutradara itu sendiri dalam proses produksi, 12 tahun produksi merupakan nilai plus dari film ini. Dan lagi, ini bukan series, ini ada di satu film.
Apalagi kalau suka karya Linklater seperti trilogi Before, pastinya akan open dengan karya yang ini.

8.1/10 untuk Boyhood :) I am really amazed by Linklater's work.
RT, Metacritic and Telegraph juga ngasih rate yang sempurna utk film ini.



Wassalamu'alaikum wr.wb.



20151016

Crimson Peak (2015) review

Assalamu'alaikum wr wb.
Greetings! Gonna make another movie review, give applause for... Guillermo Del Toro's Crimson Peak!




Set in about early 19th century, in U.S. lebih tepatnya.. kinda rare utk menemukan film yang banyak bangsawan dgn logat hampir sebagian besar british terus bisnis ala-ala bersetting di US, Kirain bakal di Inggris gitu haha but soon we'll get to that part.
As expected from Del Toro, awalnya udah taruh ekspektasi banyak buat Crimson Peak, sampe dipromoin pas JCC juga (eh iya dipromoin kan? haha)

Pertama tau yg main adl mbak Mia Wasikowska, terakhir liat dia pas Alice In Wonderland, which is my favorite movie all time. Jadi yaa bikin ekspektasi makin naik. Gak ada tau2nya juga sih bakal dilengkapin sama Jessica Chastain (Mama, Interstellar), Tom Hiddleston (Thor), dan Charlie Hunnam (Pacific Rim).

Edith or Mia, as usual, looks very stunning. Fix sih akting nya bagus bgt, keliatan kayak wanita cerdas gitu, bangsawan yang kaya & very lovely! Di Alice dia juga jadi bangsawan ala ala gitu yang keluarga nya biasa bisnis jadi ya I guess she had experiences
And for Jessica Chastain's acting skills' very well in some parts. Sinis, full of anger inside, sarkastik. Good overall, but her crying part is worst. really worst. what happen to the crying Murphy back in Interstellar when she misses her father?
Tom and Charlie's.. well.. so so.. not much to say.

Plot and storyline truly amazed me. sumpah deh, awalnya gue ga ngeh banget kalo itu horor, sampe liat trailer nya dan ya.. ada hantunya. Gue udah pesimis mau nonton karena takut haha tapi diliat dari trailer sih ya hantunya ga serem & mukanya ga dibikin ga jelas kayak mostly film horror yang bersetting di rumah gede banyak hantu.

Engga, ceritanya ga kayak tipikal film horror yang ada di rumah besar, kuno dan banyak hantu nya. Indeed, saat di rumah besar kuno ini emang mereka ambil lokasi di Inggris. Typical, right? sama kayak Woman in Black. Early 19th century with British casts and black-gowned woman ghost.

Intinya di sini Del Toro bisa bikin cerita horor yang not so obvious kl itu horor, yg bikin takut bukan setannya tapi org2nya dan cerita itu sendiri. Dikemas dengan baik oleh Del Toro menjadi satu kesatuan film bergenre horor-fantasi yang sebenarnya kalo Anda cari film horor yang hantu nya ga jelas, ga horor banget sih. Jelas, di IMDb aja tulisan genre nya drama dan fantasi dulu kemudian horor.
Emang sih awalnya bikin kaget hantu-hantu nya, tapi seiring terungkap semua nya jadi ga bikin takut & kaget lagi.

Cerita dari film ini karakternya itu consumed by fear, wealth, lust, and dark love. Pokoknya pd awalnya kl dugaan Anda ini film ga jauh beda dari Woman in Black atau film lain yg ada di rumah besar banyak hantu nya, Anda salah besar. Tadinya juga gue udah mikir sih ini plot kebaca banget gimana gimana. Tapi ternyata bikin mind-blown, bikin kita "OH TERNYATA" cukup sering.

Dan sekali lagi jika Anda hanya mencari film horor dgn hantu ga jelas, bikin kaget dan tidak mengharapkan unsur fantasi, pasti selesai film Anda bakal "udah gitu aja?"
When clearly, it blows your mind.

Another thing I like is, lokasi syuting nya. Rumah nya ga terlalu kuno dan ga terlalu seram mengingat film nya pun ga terlalu "seram", ga terlalu tua dan ribet, hampir semua bagian di rumah muncul di film. 


And no, no special score or soundtrack from this movie.

7,9/10 untuk Crimson Peak. Gue suka plot & nilai tambahnya ada pada mbak Mia Wasikowska. Nice, Del Toro!





Wassalamu'alaikum wr.wb.

20151010

Pan (2015) review

Assalamu'alaikum ikhwah fillah!
Title says it all, let's make a review for Pan movie!



Every childhood stories have either a reboot, a remake or even a side story. And Peter Pan, which was created around the beginning of 20th century, and unexpectedly, his first appearance was in adult novel (see https://en.wikipedia.org/wiki/Peter_Pan), had both a remake and a side story.

Pembuatan film yang pertama itu tahun 1953, yang kartun, yang sering ditayangin di Disney Channel.
Kedua, pembuatan ulang di tahun 2003 yang mengangkat orang asli buat jd pemeran-pemerannya (is that even called a remake also? please don't judge my future of becoming movie director for stating this.)
Dan yang ketiga, Pan, a side story of Peter. Dibuat tahun ini dan yang akan dibahas kali ini.
Atau mungkin ada yang mau nambahin lagi film Peter Pan yang lain?

Neverland is a place where every one of us as a child dreamed of ever getting there. Gue emang belom pernah nonton Peter Pan yang tahun 2003 itu, pernah sih nonton yang 1953, dan ga menarik perhatian gue sama sekali. Jadi, pas nonton Pan ini gue kurang ngerti apa-apa tentang Peter dan cerita asli nya yang ditayangin di 2003/1953.

*SPOILER ALERT*

So here it is, first of all, I totally fell in love with the visual effects. Emang sih mungkin sama aja kayak film fantasi lainnya tapi buat gue quite something. Mulai dari intro nya di langit-langit yang banyak bintang gitu, trus bintang-bintang nya ngebentuk muka Peter, Blackbeard dll dipadu dgn narasi tentang mereka-mereka. Sinematografi nya it's all about up and down gitu deh haha. Cgi masuk penilaian juga gak nih? Masukin aja lah ya haha not much saying yg jelas gue suka banget dah fix fix fix. Silakan liat sendiri aja ya hahaha.

Next thing next, untuk jalan cerita.. buat gue yang kurang ngerti cerita asli Peter, mungkin so so aja. Tapi jalan ceritanya bikin penonton kepo gitu sama kelanjutannya ini itu gimana. Terus gue kesel, katanya Peter bisa terbang, tapi ga terbang-terbang. Terbang nya cuma pas mau abis doang, mungkin it's a pretty gay and weird thing kali ya for boys to fly wkwk jadi ditaro di rada akhir atau biar bikin kepo terus greget gt karena ga terbang-terbang? Terus ya adegan pas berantem sama Blackbeard juga cukup ngebosenin dan ya seperti cerita fantasi anak kecil lainnya, kadang ga make sense.
Levi Miller yang jadi Peter sendiri juga biasa aja sih, kadang di beberapa adegan dia ngebosenin, ngomongnya juga kurang jelas, tapi di adegan lain yaa lumayan lah. Maklum deh belum lama terjun di dunia film.
Rooney Mara cantik, nuff said. Garrett Hedlund jadi Hook hm boleh juga, untung aja nih ganteng Hook nya, kayak di Once Upon A Time. And we all knew that Cara's here, yeah Cara Delevigne! Walau cuma sekitar 5 menit tampil, tapi
dia
cantik
banget
fix
dan gatau kenapa ya walau cuma renang-renang nyelamatin si Peter juga tetep aja bikin wah dengan rambut pirang nya yang panjang! Penasaran Cara jadi apa? Nonton aja dulu, haha.

Score dan soundtrack lumayan, Really Slow Motion nailed the trailer! Biasanya film-film kan suka omdo tuh ya di trailer ada score/soundtrack ini, tapi di film gak ada. Dan untuk Pan, ada satu lagu yang awalnya gue kira score doang, masuk sebagai penutup credits. Ada lagu Nirvana yaitu Smells Like A Teen Spirit sama lagunya The Ramones judulnya Blitzkrieg Bop. Suka juga pas Peter lagi desperate nyoba terbang gitu, ada lagu yang bikin adem,
Dan lagi, kalau kalian denger di trailer ada satu lagu pas awal-awal liriknya
"This is not the end of me, this is the beginning."
Itu adl lagunya Christina Perry. Ini enak banget, serius.

Segitu aja sih review nya, emg udah berharap banyak buat Pan jadi overall score; 7.7/10. Penilaian rada subjektif nih sebenernya wkwk





Ciao!
Wassalamu'alaikum wr wb.

20150828

Paper Towns (2015) review

Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh!
Hai, di hari yang cukup mengecewakan tapi bahagia ini gue mau ngulas film garapan Jake Schreier, yap, Paper Towns!

Karya orisinil karangan John Green ini adalah film kedua yang diangkat ke layar lebar setelah yang pertama, The Fault in Our Stars yang cukup sukses dengan rating 7.9 (via IMDb)

Sebenernya gue udah tau Paper Towns ini bakal fix diproduksi semenjak TFIOS keluar di bioskop. Thanks to IMDb "people who liked this also liked..." feature, gue jadi bisa liat kalo Paper Towns ini udah announced status nya dengan dua pemeran fix yaitu; Cara Delevigne sebagai Margo Roth Spiegelman dan Nat Wolff sebagai Quentin Jacobsen
Cukup kaget dan heran juga kalo ternyata film kedua yang bakal diangkat ke layar lebar itu Paper Towns, gue kira bakal Looking for Alaska. 
Dan setelah nunggu sebulan untuk rilis di Indonesia, akhirnya ini film rilis juga!
Film ini sih genre nya mystery and suspense sih katanya.. katanya..

From my point of view sih yaa.. tentang film ini.. gue sedikit kecewa sih haha apa sangat kecewa ya? Ya kita liat aja yaa dari review gue (in no particular order)

*SPOILER ALERT*

1. Casting: 7.6
Cukup suka sih dengan Halston Sage yang suuupppeeer cantik! Menurut gue, akting Nat dari TFIOS biasa aja, gue harap lebih untuk Paper Towns karena gue pikir di TFIOS dia cuma jadi temannya Gus. But yeah, shouldn't expect much from him. Cast that totally saves this movie is..........
CARA DELEVIGNE! Totally saves the movie!
Not bad for the first time jumping in acting world, I should say. Akting nya sangat menjual, apalagi kecantikannya sebagai model di VS, cukup memukau para audience setiap kali melihat Margo
"aww cantik banget"
"keren ih dapet banget"

Dan... salah satu cameo di film ini yang bikin ciway-ciway perawan menjerit adalah..
Ansel Elgort! Yep, doi muncul sebagai cameo di film ini. Di scene mana? Nonton ajaa haha. Yang jelas dia juga penyelamat poin casting.

2. Cinematography: 8
Gak tau mau bilang apa soal sinematografi nya. Ilmu belom cukup, gue sendiri masih sangat awam. Tapi kalau ditinjau dari pengelihatan orang awam, ini keren banget! Cara kamera menangkap setiap gambar, pengambilan gambar dari sisi dan sudut-sudut tertentu, pencahayaan nya juga mantep.

3. Soundtrack and Score: 7.9
Untuk scoring dulu deh.. jujur aja nih.. score nya pada lebih cocok untuk film fantasi sih ahah jujur aja ya, selama gue nonton film nya dan muncul score-score yang earcatching gue kebayangnya itu cocok untuk film fantasi dibanding Paper Towns. Tapi karena gue demen film fantasi, jadi score nya pun gue suka! Cuma kurang cocok aja kali ya kalau dipake nya di Paper Towns. Tapi di beberapa adegan, ada yang pas kok.

Selanjutnya, soundtrack.. di trailer sih waktu itu ada lagu nya Mikky Ekko judulnya smile. Ditinjau dari video klip nya tentang kecelakaan mobil sih gue lebih prefer itu dijadiin soundtrack nya LfA. Tapi H-1 nonton film nya, gue kebayang sih petualangan Q dan kawan-kawan emang bikin gregetan, sehingga lagu Mikky Ekko yang upbeat ini cocok dijadiin salah satu soundtrack.

4. Plot/Story line: 6.9 & Plot pacing: 5.5
Sangat jauh berbeda dari buku. I know, emang setiap karya adaptasi buku selalu ada perbedaan. Ada yang bikin kecewa, ada yang bikin kita cuma sekedar berkata "oh beda"
And my reaction is,
tarik nafas dalam-dalam, buang, mengusap muka sambil ngebatin
"parah"
fix. untuk story line cukup bikin kecewa. (ini bakal berhubungan dgn plot pacing)
Karena yang pertama, gue pikir malam pas Margo sama Q lagi menjalankan "misi" itu bakal ditampilin ke-sembilannya, ternyata cuma 3 terbaik dari 9 (kalau gak salah). Audience termasuk gue jadi kurang dapet feel nya kalau si Q emang bener-bener suka sama Margo. Dan karena plot yang berjalan terlalu cepat juga, Margo kurang bikin Q baper.

Kedua, adegan-adegan dimana Q berusaha memecahkan petunjuk-petunjuk yang Margo tinggalkan, harusnya di bagian ini nih, audience bakal ngerasa greget banget karena petunjuk-petunjuk nya Margo tuh kalau di buku, sangat sulit untuk dianalisis. Mulai dari Q yang pergi ke perumahan-perumahan tua dan terbengkalai di Florida, menghabiskan waktu bermalam di tempat cinderamata dan lain-lain. Dan lagi masalah plot pacing, terlalu cepet. Sehingga audience tentu akan merasa
"loh kok udah kepecah lagi kode nya Margo"

Ketiga, NABRAK SAPI.
Adegan dimana Q dan kawan-kawan yang udah mulai lelah karena perjalanan jauh kemudian Q sendiri yang ambil alih kemudi malah nabrak sapi harusnya jadi adegan yang sangat breathtaking karena kalau gak salah di buku, bagian ini tuh bikin yg lain luka ringan juga ya? Intinya pas gue baca juga breathtaking banget sih. Tapi saat direalisasikan menjadi film, adegan ini malah dibikin lucu,

Keempat, ENDING. *SPOILER ALERT*
Kalau gak salah, di buku ending nya itu diceritain kalau Q dan kawan-kawan ngelewatin prom karena mereka ketemu Margo.
Ya, mereka.
Gak cuma Q doang.
Dan mereka ketemu Margo di dalam rumah di Agloe sedang menulis diari nya, terus ada bagian ini, bagian dimana Q dan Margo ngobrol di padang rumput depan rumah tua itu terus Q nyium Margo. Di situ feel nya super dapet dan sedih abis. Ketimbang Q yang akhirnya ketemu Margo dengan GAK SENGAJA dan pulang SENDIRIAN naik bis.

Inti poin dari story line dan plot pacing sih gue kurang suka ya. Karena (lagi) audience kurang ngerasa greget, malah jadi ngerasa
"tadi kayaknya baru ketemu Margo??"
"kok pergi berhari-hari ga ada yang berubah sedikit??"
harusnya sih audience bisa dibawa ikut berpetualang sama Q dan kawan-kawan, ngerasain greget nya mecahin kode dan nyari Margo.
tapi untung aja, humor nya sangat menyelamatkan jalan cerita yang hampir bikin kecewa sepenuhnya.

Mungkin alasan kenapa di film mereka ikut prom biar ga terlalu mengecewakan, biar ada bahagia nya. Kalau di buku kan, prom ga dapet, Margo juga pergi lagi. Ya.. mungkin aja. Oke ini ada kaitannya sama lagu Mikky Ekko, gue ga denger lagu tersebut kecuali di trailer. Padahal itu lagu bagus banget dan gue berharap ending nya sesuai di buku dan bakal muncul pas adegan Margo nanya Q
"kamu mau ikut aku?" kemudian lagu smile tersebut mengiringi sampai credits.
Overall poin story line dan plot pacing menurut gue, terlalu cepat sehingga kurang feel dan rasa greget nya.

Overall poin keseluruhan untuk film Paper Towns ini 7/10.
Good job, Jake Schreier!





"Its a paper town, with paper houses and paper people, everything is uglier up close." Margo Roth Spiegelman


Wassalamualaikum Wr Wb.

20150224

Uhibbuka fillah...

Bismillahirrahmanirrahim...

Di saat orang lain ingin bertemu,
Di saat orang lain ingin berjumpa,
Di saat orang lain ingin bertatap wajah,
Aku hanya bisa berdoa agar kita dipertemukan di waktu yang tepat.

Di saat orang lain ingin berbicara dengan satu sama lain,
Di saat orang lain ingin berkomunikasi,
Aku hanya bisa berdoa agar kita bisa berkomunikasi lewat doa.

Di saat orang lain mengeksekusi rindu lewat bertemu,
Di saat orang lain mengeksekusi rindu lewat berbicara,
Aku hanya bisa mengeksekusi rindu lewat doa

Ku panjatkan doa,
Ku santun kan nama mu dalam doa ku,
"YaAllah.. Ya Rabb... Maha Mengetahui isi hati.. Sampaikanlah pada nya rindu ini,
Aku merindukan nya karena Mu yaAllah..
Berikanlah dia yang terbaik, yaAllah,
Lindungilah dia selalu..
Bimbing lah dia menunju jalanMu yang lurus,
Ampunilah segala dosa nya"

Sungguh, Dia lah yang Maha Pemberi perasaan ini
Sungguh, lewat ini lah aku belajar memahami cinta yang baik
Sungguh, mencintai dalam diam lebih baik daripada harus mengumbar itu semua
Sungguh, mencintai dalam diam lebih baik bagi perasaan ku dan perasaan mu
Sungguh, mencitai mu karena Allah sangatlah indah, jika kamu bertanya..

Jika memang cinta dalam diam itu tidak memiliki kesempatan berbicara di dunia nyata,
Biarlah menjadi memori tersendiri di sudut hati ini

Akhi ana mencintai antum karena Allah
Uhibbuka fillah..
InsyaaAllah.. (:

Wassalamualaikum wr.wb